Pengumuman

Tolong follow dan click iklan buat saya jika anda merasa terbantu dengan artikel ini, terimakasih atas kebaikan anda. any comment? send to taringdoberman@yahoo.com

Friday, July 17, 2009

FLU BABI DI MATA KU

FLU BABI DIMATA KU

Pendahuluan
Menurut Peneliti senior khususnya dalam genetik yang berbau flu babi , C.A. Nidom (kepala Laboratorium Universitas Air langga), penyakit flu H1N1 sudah ada sejak dulu di Indinesia haya tipenya tidak seganas Flu babi yang terjadi di Mexico. Beliau juga sudah mewanti-wantikan akan terjadi hal ini, tentunya bukan sebagai peramal yang tidak dapat di buktikan secara ilmiah, beliau sudah memprediksi (2005), tentunya dengan dasar ilmiah yang dapat di uji. Dan ketika terjadi barulah banyak yang berkomentar yang akhirnya tentunya sudah terlambat. Kena dulu baru ribut.
Kalau dilihat dari kacamata seorang dokter hewan, yang belum pernah ikut-ikutan dalam hal-hal penyusunan peraturan birokrasi dan undang-undang. Hal ini agak membuat kecewa. Lambat, tidak jauh beda dengan kejadian flu burung yang sekarang juga jadi adem ayem. Manajemen kaget dan nanti belum berubah dari dulu. Indonesianya dulu kaget baru baru dibuat sistem baru yang mirip tambalan ban saja. Hujan dulu baru payungnya di buka. Tentunya sudah basah duluan.
Salah satu komentar Mentan Apriyono pada salah satu media masa mengatakan belum ditemukannya ternak babi yang terinfeksi oleh flu ini di babi (7/72009). Sehubungan dengan WHO yang meningkatkan status flu babi menjadi level 6 yang berarti seluruh dunia sudah terkena (11 juni 2009), Ibu Menkes juga menyebebutkan secara otomatis kejadian flu babi di indonesia menjadi KLB (kejadian luar biasa). Kalau mudur sedikit pada komentar menkes di salah satu media, “tidak usah khawatir dengan virus H1N1 atau yang biasa dikenal flu babi. Dia meyakinkan bahwa sistem penyebaran virus saat ini dapat terdeteksi"Sistem penyebaran dari virus di dunia sudah transparan dan dapat diketahui bersama melalui gisaid, sehingga asal muasal virus tersebut dapat diketahui," ujar Menkes saat jumpa pers di Gedung Departemen Kesehatan, Jalan HR Rasuna Said, Jakarta, Senin (4/5/2009). Bahkan hingga saat ini pun kasus flu babi belum ditemukan di Indonesia. Kalau disimak semua komentar ini bersifat menenangkan dan menina bobokan bangsa indonesia.
Babi Dimata Indonesia
Kalau dilihat dari kacamata produksi babi, peternakan babi skala besar dapat di temukan pada Pulau Bulan, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Sejumlah sentra peternakan babi di Indonesia di antaranya Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Barat, Papua, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Batam. Menurut laporan Ditjen Peternakan, populasi ternak babi di tanah air saat ini sekitar 7,5 juta ekor. Populasi ini tersebar di NTT sekitar 1,6 juta ekor, Bali 900.000 ekor, Kalbar 876.000 ekor, Sumut 760.000 ekor, Sulsel 530.000 ekor, Papua 507.000 ekor, dan sisanya 2,2 juta ekor tersebar di beberapa wilayah lain. Dan jangan lupa, menurut data Ditjen Peternakan, saat ini diperkirakan setiap tahun Indonesia mengimpor produk babi sebanyak 100 hingga 3.000 ton per tahun. Pada 2008, impor tercatat mencapai 2.600 ton berupa campuran produk babi termasuk daging dengan kualitas tinggi. Tentunya angka ini berkaitan degan tenaga kerja yang bergerak di bidang industri ini. Layaknya nasip pekerja di bidang ayam yang banyak ngangur akibat banyaknya tutup kandang karena tidak mampu berproduksi lagi. Saya teringat kata presiden Obama (Amerika) yang mengusulkan tidak menyebut flu babi untuk kejadian H1N1, tetapi mengusulkan untuk menyebutnya sebagai gabungan antra kata flu dan mexico yang bertujuan untuk melindungi perputaran produksi daging babi yang berujung kepada usaha untuk mempertahankan produksi babi yang identik dengan mempertahankan lapangan kerja dalam industri ini.

Pandangan Kedepan
Berangkat dari tubuh kita ini yang semuanya sudah diatur oleh sang Pencipta, semuanya dalam keadaan normal terorganisir dengan baik dan membentuk suatu sistem dan sistem tersebut saling mendukung. Untuk itu perlu diterapkannya konsep one health. Konsep ini adalah jalan keluar yang paling logis karena membentuk sistim yang saling mendukung. Selain system tadi kita manfaatkan kondisi Indonesia yang terdiri dari kepulauan ini menjadi barier-barier alami dalam bidang perindustrian hewan yang tersentralisasi yang berujung kepada kemudahan dalam pengontrolannya di kemudian hari. Selain itu tentunya pengontrolan dari masuknya virus H1N1 mexico dan dari daerah tertular juga harus jelas (sekarang sudah terlambat), bukan hanya alat pendeteksi yang dipasang dimana-mana, penolakan kedatangan dari daerah tertular untuk jangka waktu tertentu juga harus dilakukan. Jangan tanggung-tanggung, buktinya sekarang VIRUS H1N1 mexico ini sudah masuk di Indonesia. Ketegasan perlu pada tempatnya. karena suhu normal belum jaminan dia tidak membawa agen H1N1, virus juga membutuhkan waktu untuk menghasilkan gejala panas pada orang yang terpapar. Selain itu, harus diperkuat fasilitas untuk penelitian para praktisi dibidang system one health ini, dan jangan tunggu ada korban baru surveillance dan lain sebagainya. Semuanya harus dituangkan dalam bentuk Undang-Undang agar ada kekuatan hukumnya
Kalau masalah susah dana dan lain sebagainya, saya yakin itu bukanlah masalah tapi tantangan. Indonesia dulu dijajah, kakek nenek dengan modal bamboo runcing (modal dengkul) juga mampu mengusir penjajah yang berbadan gede, perlengkapan perang lengkap dan dana yang memadai. Saya pikir satu iklan tv contohnya sekolah gratis ada dimana-mana (gratis karena sekolahnya pada ambruk 14/07/09) sudah sangat berharga buat penetapan dasar-dasar dan pembangunan system ketahanan kesehatan hewan yang akan berujung kepada kesejahteraan manusia. Dengan kata lain sedikit berbicara banyak bekerja (Bung Karno) Saya yakin jika keinginan ada semuanya bisa terjadi.





No comments: