Pengumuman

Tolong follow dan click iklan buat saya jika anda merasa terbantu dengan artikel ini, terimakasih atas kebaikan anda. any comment? send to taringdoberman@yahoo.com

Tuesday, April 28, 2009

Swine Flu sudah siap kah kita?

Pengumuman mengenai keberadaan swine flu atau swine influenza atau fluy babi di mexico dan amerika memang mengemparkan..., sekali lagi penyakit zoonosis menyeruak. menurut literatur flu babi disebabkan oleh virus dari keluarga Orthomyxoviridae yang endemik pada babi. pada babi nama ini lebih dikenal dengan swine influenza virus (SIV) yang dapat di klasifikasikan virus influenza tipe A (sering) dan C (Jarang). tipe ini juga endemik pada manusia. sekali virus ini bermutasi dan menginfeksi manusia, maka infeksi antara manusia pun tidak dapat di elakkan lagi. sub tipe virus inluenza babi ini adalah H1N1, H1N2, H3N1, H3N2 dan H2N3.
Menurut CDC (Centers and Diseases Control and Prevention), gejala yang terlihat ketika kita terpapar oleh patogen ini adalahsecara garis besar sama dengan gejala flue biasa (influenza like illness) out breake flu babi pada babi ini pernah terjadi pada 2007 di philipine tepatnya di Nueva Ecija dan Central Luzon sebelum sekarang, flu babi juga pernah outbreak pada 1976 di amerika. sampai tanggal 27 april 2009, data dari CDC mengenai kasus flubabi pada manusia yang sudah mendapatkan konformasi positif dari laboratorium yang di tunjuk adalah 40 kasus dengan rincian 7 kasus di california, 2 kasus di kansas, 28 kasus di newyork, satu kasus di ohio dan 2 kasus di texas. pengobatan yang dianjurkan adalah pengobatan dengan menggunakan antiviral drugs seperti oseltamivir dan zanamivir.
Lain halnya dengan Vallat, tepatnya Bernard Vallat, OIE, mengutip wawancara dengan AFP, flu babi ini tidak ditemukan agennya dapat berpindah dari babi langsung kemanusia. belum ada penelitian yang nyata mengenai hal ini. selain itu Vallat juga berpendapat bahwa sampai saat ini (28/4/2009) belum terbukti bahwa virus yang menyebabkan kematian pada manusia itu dapat di isolasi pada hewan. dan juga mengusulkan untuk tidak menggunakan flu babi, tetapi menggunakan nama tempat dimana flu tersebut mulai muncul seperti "influenza amerika utara" misalnya. dan tidak setuju akan penindakan orang-orang yang hidup dari perbabian dan pelarangan pengimporan babi.
Kembali ketanah air kita, Indonesia. kemungkinan virus terebut sudah ada di indonesia sebaiknya segera diperjelas dengan survei monitoring analisis yang kemudian berujung kepada penyusunan langkah-langkah strategis dan mampu diterapkan dilapangan dengan menggunakan ellemen-elemen yang ada. semuanya berujung dengan lahirnya undang-undang untuk penetapan situasi pencegahan penyakit zoonis. Sebenarnya yang paling mungkin menjadi ujung tombak untuk semua ini selain kalangan profesional adalah kalangan legislatif yang mempunyai latar belakang pendidikan kesehatan hewan dan manusia. kembali ke konsep one health yang saling melengkapi tersebut. tidak di pungkiri, untuk merubah sistim ya kita harus mampu masuk kedalam sistem. semoga indonesia makmur gemah ripah loh jinawi. amin. mohon maaf jika ada yang tidak berkenan.

Monday, April 20, 2009

Anatomi anjing

Disini Terlihat Jelas Struktural Anatomi anjing
Bagian Kepala

Bagian Badan
Bagian Paru-paru
Bagian reproduksi anjing jantan



Alat Kelamin Jantan 3D



Alat Kelamin Betina 3D



Posisi Alat Kelamin Betina dan Jantan Posisi Kawin /Kopulasi

Data Fisiologis
1. Suhu tubuh anjing "normal" tubuh adalah 38-39,2 C (100,5-102,5 Fahrenheit ). suhu tubuh diatas atau dibawah ini tanpa ada kegiatan atau keadaann yang merangsang kenaikan atau penurunan suhu, merupakan hal-hal yang perlu diwaspadai
2. Rata-rata jumlah pernapasan 10-34 napas per menit. Rata-rata jumlah pernapasan adalah jumlah pernapasan yang dihitung dalam jangka waktu satu menit dan dilakukan penilaian tersebut ketika anjing sedang beristirahat. jika jumlahnya dibawah atau diatas jumlah tersebut, perlu dilakukan pemeriksaan yang lebih mendetail.
3. Denyut Nadi/Jantung 60-100per menit untuk anjing ras besar, dan 100-140 untuk anjing ras kecil 
4. Masa kebuntingan Rata-rata, 63 hari, tetapi dapat bervariasi antara 57-69 hari.
5. Jumlah Gigi pada anak kucing memiliki 28 gigi dan Kucing dewasa memiliki 42 gigi


Sunday, April 19, 2009

Mengenal Sejarah dan posisi serta kewenangan Dokter Hewan

MENGENAL DOKTER HEWAN DAN
KEWENANGAN MEDIS VETERINER DI INDONESIA.
Oleh:
dr drh Mangku Sitepoe.

Dalam rangka memperingati : WORLD VETERINARY DAY atau HARI DOKTER HEWAN se-DUNIA pada hari Sabtu akhir bulan April setiap tahun atau 25 April 2009 yang ditetapkan oleh OIE (Organisasi Kesehatan Hewan se-Dunia) dan WVA (Perhimpunan Dokter Hewan se-Dunia). Kami memperkenalkan Dokter Hewan dengan Otoritasnya yang telah dimarginalkan di Indonesia baik oleh Dokter Hewan sendiri, pemerintah dan masyarakat. Sedangkan didunia internasional mendambakan kehadiran Dokter Hewan.

Dunia menghadapi dengan serius Emerging disease dengan 60 % merupakan penyakit Zoonosis. Ancaman globalisasi Bioterisme mulai merebak semenjak Oktober 2001 dengan agen terdiri dari 80 % dari penyebab penyakit zoonosis. Penyakit zoonosis: penyakit hewan yang dapat ditularkan kemanusia. Penyakit zoonosis memiliki 2 (dua) kewenangan medis yaitu: Kewenangan Medis pada manusia yang dimiliki profesi Dokter dan Kewenangan Medis Veteriner pada hewan yang dimiliki oleh profesi Dokter Hewan. Dunia menuntut peranan Dokter Hewan dengan Kewenangan Medis Veteriner-nya dalam menghadapi ancaman globalisasi penyakit zoonosis beserta bioterorisme. Sementara itu di Indonesia baik kalangan Dokter Hewan sendiri, oleh pemerintah maupun masyarakat bahwa: Dokter Hewan hanya berwawasan sebagai Dokter Ternak (Veearts) tanpa Kewenangan Medis Veteriner..

Kilas balik Dokter Hewan di Indonesia.
Pemerintah Hindia Belanda dalam menghadapi berbagai penyakit menular pada hewan disaat itu seperti penyakit Mulut & Kuku, penyakit Rinder-pest, penyakit Rabies, penyakit Antraks dan sebagainya mulai mendirikan Sekolah Kedokteran Hewan (Inlandse Veeartsen School) dan Laboratorium Kedokteran Hewan pada 1 Juni 1907 di Bogor. Mahasiswanya dari lulusan MULO atau Sekolah Menengah Pertama. Lulusan Sekolah Dokter Hewan di Bogor disebut Vee Arts atau Dokter Ternak . Sedangkan mereka yang lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan dinegeri Belanda disebut Dieren Arts atau Dokter Hewan. Pada tahun 1914 dirubah menjadi Nederlands Indische Veeartsen School (NIVS) di Bogor sebagai cikal bakal pendidikan Dokter Hewan di Indonesia .Difinisi :Ternak sesuai dengan KUHP (Kitab Undang-undang Hukum Pidana) yang masih berlaku di Indonesia pada pasal 101 adalah binatang yang berkuku satu, binatang memamah biak dan babi. Dari difinisi ini Veearts atau Dokter Ternak hanya mengurusi kesehatan binatang yang termasuk ternak yaitu: kuda, babi, sapi, kerbau, kambing dan domba. Binatang atau hewan yang hidup di-air maupun diudara, hewan kesayangan, hewan liar dan hewan percobaan belum merupakan tugas kewenangan Dokter Ternak.. Pada 1946 Fakultit Kedokteran Hewan & Peternakan Universitit Gadjah Mada didirikan di Klaten. Sebagai Dekan pertama adalah Prof Drs M Soeparwi Dokter Hewan lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan dinegeri Belanda yang memiliki titel Dieren Arts atau Dokter Hewan melingkupi seluruh dunia hewan atau seluruh dunia fauna.. Mahasiswa yang mengikuti kuliah di Fakultit Kedokteran Hewan & Peternakan adalah lulusan SMA (Sekolah Menegah tingkat Atas). Sampai tahun 1968, mahasiswa yang lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan & Peternakan bertitel BSc (Bachelor of Science ) pada bidang Peternakan kemudian melanjutkan pendidikan Dokter Hewan selama 2 ½ tahun .Lulusan-nya sebagai Dokter Hewan.

Undang-Undang no.6/1967 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.
Orde Baru mendeklarasikan peningkatan produksi dalam bidang pertanian termasuk peternakan. Zaman Belanda adanya Staasblad 1912 no.432 tentang Tjampur tangan pemerintah dalam urusan Kehewanan meliputi Pembrantasan penyakit Hewan menular; Perbaikan Peternakan dan Kesehatan/Kebersihan Veteriner. Oleh Prof M Suparwi Dekan Fakultas Kedokteran Hewan & Peternakan Universitas Gadjah Mada di Klaten,1946 disebut: Undang-Undang Veteriner. Para penyusun UU no.6/1967 adalah para Dokter Hewan yang masih menganut Dokter Ternak (Veearts) diikuti oleh Deklarasi Orde Baru masalah Peternakan. Disusun UU no.6/1967 menitik beratkan kepada pembangunan Peternakan dengan Kesehatan Hewan hanya sebagai penunjang.. Sehingga UU no.6/1967 mengangkat kembali tugas kewenangan Dokter Hewan menjadi Dokter Ternak. .Pada pasal 26, UU ini masih memberlakukan UU Veteriner selama tidak bertentangan. Untuk memenuhi tenaga trampil dalam bidang Peternakan oleh para Dokter Ternak dosen Fakultas Kedokteran Hewan di Bogor mendirikan Fakultas Peternakan . Lulusan Fakultas Peternakan bertitel Insinyur (Ir). Sesuai dengan UU no.6/1967 menitikberatkan pada Peternakan Djawatan Kehewanan Pusat dan Dinas Kehewanan Daerah dirubah menjadi Direktur Jendral Peternakan dan di Daerah menjadi Dinas Peternakan. Bahkan RUU Peternakan dan Kesehatan Hewan yang sudah dibicarakan di DPR sudah mencapai Tim Sinkronisasi masih menempatkan Dokter Hewan sebagai Dokter Ternak.

Kewenangan Medis Veteriner.
Sesuai dengan Staatsblad 1912 no.432 atau UU Veteriner pasal 34. butir 1 menyatakan: yang memiliki Veeartsnijkundige atau Kewenangan Medis Veteriner adalah mereka yang lulus dari Fakultas Kedokteran Hewan di Indonesia . Kewenangan Medis Veteriner hanya dimiliki oleh mereka yang berprofesi Dokter Hewan. Pasal 34 butir 2; UU Veteriner menetapkan Veearsnijkundige Dienst atau Jawatan Kehewanan Pusat dan didaerah Dinas Kehewanan. UU no.6/1967 merubah Jawatan Kehewanan Pusat menjadi Dirjen Peternakan dan didaerah menjadi Dinas Peternakan. OIE (Organisasi Kesehatan Hewan se-Dunia) Kewenangan Medis Veteriner disebut Veterinary Authority sedangkan tugas Dokter Hewan dalam lembaga negara disebut Veterinary Administration. Tugas Kewenangan Medis baik pada manusia maupun pada hewan meliputi: diagnosis, terapi (pengobatan) dan prognosis penyakit yang diderita oleh pasien-nya. Secanggih apapun alat diagnosis penyakit yang mendiagnosis adalah mereka yang memiliki Kewenangan Medis. Demikianpun pemberian Obat Ethical atau obat menggunakan resep , yang boleh membuat resep hanya dokter, dokter gigi dan dokter hewan. Prognosis penyakit pasien misalnya eutanasi pada hewan harus dikerjakan oleh seorang yang memiliki kewenangan medis. Dokter Hewan di Indonesia memiliki Kewenangan Medis Veteriner..

Dokter Hewan di Indonesia bukanlah Dokter Ternak tetapi Dokter Hewan bagi seluruh hewan didunia fauna serta memiliki Kewenangan Medis Veteriner yang tidak dapat dikerjakan oleh mereka yang tidak memiliki profesi Medis Veteriner.

Jakarta 25 April 2009.
dr drh Mangku Sitepoe
Anggota PDHI dan IDI.

Wednesday, April 15, 2009

ONE WORLD, ONE HEALTH



ONE WORLD ONE HEALTH, ONE MEDICINE, SETUJU BANGGEEETTTSSS...


Konsep yang mempersatukan kesehatan secara umum yang akrab di telinga dengan istilah OWOH sudah seharusnya diterapkan di indonesia. disini semua dilihat dalam bentuk kesatuan yang utuh, tidak terpecah-pecah apalagi perpecahan tersebut hanya akibat ego yang biasa terjadi di Indonesia.

Menurut Prof. David Waltner- Toes dari Guelph University, bentuk sistem seperti ini saudah teruji manjur pada wilayah Asia dan Afrika. disini semua ahli yang bergerak dibidang yang bersangkutan dengan kesehatan dan lingkungan dibiasakan untuk bekerjasama untuk menyelesaikan hal-hal yang menyangkut kesejahteraan manusia dibidang kesehatan. di Indonesia situasi ini belum terlihat dengan nyata. pada kasus flu burung misalnya, selalu terlihat sekat yang amat jelas terlihat dalam penanganan masalah ini di lapangan. apalagi mengajak ahli lingkungan untuk nimbrung berdiskusi dan memberi pandangan dari segi keilmuannya. menyedihkan.

Kalau kita lihat lebih dalam lagi, dan tentunya kembali berpikir luas dan mengesampingkan ego, perlunya kerjasama antara dokter hewan dan dokter manusia harus disinergiskan jika ingin mendapatkan hasil maksimal. misalnya terkait penanganan zoonosis dan foodborne zoonoses. hewan dan manusia sama-sama bisa jadi korban atau sama-sama bisa jadi penular penyakit tersebut.

Di indonesia sudah anda Forum-forum yang mungkin dapat di fungsikan sebagai tempat urung rembuk mengenai kesehatan hewan seperti Forum mahasiswa peduli flu burung yang didorong oleh KOMNAS, IMAKAHI dll. dimanusia juga melakukan hal yang sama. menurut hemat saya, sebaiknya tidak usah terlalu bayak forum-forum yang mengidentikkan dengan semakin kecilnya fungsi. saya cendrung memperbesar fungsi. atau memaksimalkan fungsi.

Kembalilagi, hal ini cuma masalah ego. untuk saat ini saya melihat ada baiknya kita menyamakan kepentingan, yaitu kesehatan buat seluruh bangsa indonesia. robek ego-ego yang menyekat mulut untuk berdiskusi danlam drajat yang sama dan tidak saling menghujat. menekan semua perbedaan sumber ego dan menyuburkan segala kesamaan yang akan memperkokoh rasa saling membutuhkan.

Jayalah Bangsaku Indonesia.
Merdekaaaaaa...